Diversifikasi saham merupakan strategi mengalokasikan dana investasi ke beberapa saham dari perusahaan atau sektor yang berbeda untuk membantu mengelola risiko dalam portofolio. Dengan diversifikasi, risiko diharapkan tidak terkonsentrasi pada satu perusahaan atau sektor tertentu, sehingga penurunan kinerja suatu saham tidak terlalu berdampak pada keseluruhan portofolio.
Namun, apakah semakin banyak saham yang dimiliki berarti portofolio semakin terdiversifikasi dengan optimal? Jawabannya, belum tentu. Pada titik tertentu, terlalu banyak saham justru dapat membuat portofolio semakin sulit untuk dipantau dan dikelola. Kondisi ini sering disebut sebagai overdiversifikasi saham.
Bagaimana cara mengetahui apakah portofolio saham Anda sudah overdiversifikasi? Dan bagaimana mengelola portofolio agar diversifikasi tetap efektif? Simak penjelasannya dalam artikel ini.
Overdiversifikasi saham adalah kondisi ketika investor memiliki terlalu banyak saham dalam portofolio sehingga manfaat dari diversifikasi pada tiap saham semakin kecil, sementara portofolio semakin kompleks untuk dipantau dan dikelola. Diversifikasi saham bukan sekadar tentang memiliki saham sebanyak mungkin, tetapi memastikan setiap saham dapat dikelola dengan optimal.
Tidak ada jumlah saham tertentu yang secara otomatis menentukan apakah portofolio sudah overdiversifikasi. Jumlah saham yang sesuai dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, jumlah modal, tujuan investasi, profil risiko, jangka waktu investasi, strategi yang digunakan, hingga kemampuan investor dalam memantau setiap saham.
Namun, beberapa kondisi berikut dapat menjadi sinyal bagi investor untuk melakukan evaluasi portofolio yang sudah overdiversifikasi.
Jika jumlah saham sudah terlalu banyak hingga ada saham yang hampir tidak pernah dipantau, investor perlu mengevaluasi kembali apakah saham tersebut masih relevan dalam portofolio dan sesuai dengan strategi investasi.
Saham yang tidak lagi dipantau berisiko menjadi posisi yang “terlupakan”, padahal kondisi fundamental, prospek bisnis, atau sentimen sektornya bisa saja berubah dari waktu ke waktu.
Coba melihat portofolio saham bukan hanya berdasarkan nama emiten atau perusahaan, tetapi berdasarkan sektor dan faktor risikonya. Apakah saham-saham tersebut sensitif terhadap harga komoditas? Apakah sebagian saham akan terdampak oleh perubahan suku bunga? Atau apakah portofolio terlalu terkonsentrasi pada satu tema investasi tertentu?
Pendekatan ini dapat membantu investor melihat diversifikasi secara lebih menyeluruh. Sebab, memiliki banyak saham tidak selalu berarti portofolio benar-benar terdiversifikasi apabila, sebagian besar saham memiliki faktor risiko yang sama.
Menemukan peluang investasi baru tentu merupakan bagian dari proses investasi. Namun, jika hampir setiap saham yang menarik langsung masuk ke portofolio, investor kembali bertanya ‘Apakah saham ini benar menambah manfaat diversifikasi atau hanya menambah jumlah saham?. Pertanyaan tersebut dapat membantu agar keputusan investasi tidak didorong karena hanya sebatas fomo.
Jika investor sulit menjawab mana saham yang menjadi prioritas utama , mana yang berfungsi sebagai diversifikasi, dan mana yang sebenarnya tidak sesuai strategi, maka portofolio tersebut bisa jadi sudah terlalu kompleks.
Menghindari overdiversifikasi bukan berarti investor harus langsung menjual sebagian besar saham dalam portofolio. Langkah yang dapat dilakukan adalah mengevaluasi portofolio secara berkala dan memastikan setiap saham masih memiliki alasan serta fungsi yang jelas dalam portofolio.
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan:
Setiap saham dapat memiliki fungi yang berbeda dalam portofolio. Misalnya, saham dipilih karena memiliki karakteristik pertumbuhan, potensi dividen, hingga eksposur terhadap sektor tertentu, atau sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Dengan memahami fungsi setiap saham, investor akan lebih mudah untuk mengevaluasi apakah saham tersebut benar-benar memberikan nilai tambah pada portofolio atau tidak.
Jangan hanya menghitung jumlah saham, lihat juga bagaimana sektor dan faktor risiko tersebar dalam portofolio. Misal, investor memiliki 12 saham. Jika sebagian besar saham masih terkonsentrasi pada satu atau dua sektor, maka portofolio tetap memiliki eksposur yang besar terhadap risiko di sektor tersebut.. Sebaliknya, memiliki saham dari beberapa sektor juga tidak otomatis membuat portofolio terdiversifikasi dengan baik apabila saham-saham tersebut memiliki faktor risiko yang serupa.
Investor perlu melakukan evaluasi portofolio secara berkala untuk memastikan strategi investasi tetap sesuai dengan tujuan awal. Evaluasi bukan berarti harus melakukan transaksi. Terkadang, hasil evaluasi menunjukkan bahwa portofolio masih dalam jalur strategi investasi yang sesuai.
Namun, jika terdapat saham yang tidak lagi relevan, memiliki kontribusi terlalu kecil, atau tidak sesuai dengan tujuan investasi, investor dapat mempertimbangkan untuk melakukan penyesuaian secara bertahap.
Diversifikasi saham dapat membantu mengelola risiko dalam portofolio. Namun, menambah jumlah saham terus menerus tidak selalu membuat diversifikasi menjadi efektif.
Tidak ada jumlah saham ideal yang berlaku untuk semua investor, yang terpenting adalah memastikan setiap saham dalam portofolio memiliki alasan yang jelas, sesuai dengan tujuan investasi, dan masih dapat dipantau dengan baik.
Lakukan portofolio health check dan kelola investasi Anda lebih mudah melalui New BIONS by BNI Sekuritas. Download dan registrasi sekarang melalui bit.ly/m/newbions.
Author Detail
BIONS